Napak Tilas Perjalanan Kehidupan Bunda Nin

Kita ada sekarang, menjadi seperti apa kita sekarang, hal itu juga dipengaruhi oleh apa yang telah kita lewati, masa lampau dengan beragam rasa, susah, senang, sedih, kecewa, marah, geram, kesal, dan berbagai hal lainnya. Takdir demi takdir yang telah kita lewati, hikmah demi hikmah yang telah kita petik untuk pembejaran kita di masa yang akan datang. Semuanya harus kita syukuri. Apapun masalalu setiap dari kita, setiap orang pastilah selalu menginginkan kehidupan yang baik, lebih baik dari sebelumnya, dan akhir yang baik nanti di kampung akherat kita.

Saya memulai perjalanan kehidupan saya yang sesungguhnya dari waktu saya menikah, hidup mandiri lepas dari kedua orang tua saya. Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan seseorang yang sangat baik dan bijak, yang kini menjadi suami saya, sejak beliau mengikrarkan janjinya untuk mempersunting saya pada September 2015. Kemudian, saya pun langsung di boyong suami ke kota di mana suami bekerja, yaitu di Semarang. Alhamdulillah, atas kemurahan dan rejeki dari Allah, kami bisa mengontrak rumah sendiri dalam lingkungan tempat tinggal yang baik dan memulai hidup mandiri, memulai hidup berdua sebagai dua orang insan yang sudah mandiri.

image credit to @momalula


Kehidupan setelah menikah, ternyata penuh lika-liku, ya karena memang pernikahan itu adalah merupakan sebuah awal perjalanan yang sesungguhnya dalam dunia ini, itulah mengapa banyak orang yang beruap, "Selamat Mengarungi Bahtera Kehidupan Rumah Tangga" kepada mempelai pengantin yang baru saja menikah. Kenapa memakai istilah Bahtera? yang ketika kita mendengar kata bahtera, maka pikiran kita akan mengacu pada, kapal, perahu, laut, gelombang, samudra, badai, cuaca ekstrem, cuaca cerah, nyanyian burung-burung, serombongan lumba-lumba berenang, kemudian, jika dirunut lagi akan muncul banyak kosakata-kosakata lain terkait dengan bahtera seperti, kompas, tanpa arah, pulau, pulau tak berpenghuni, terdampar, tenggelam, terapung, terhanyut, gunung es, terisolasi, terbatas, titanic, tragis, pantai, tujuan, ikan, daaan banyak lagi. Ya, karena setelah saya merasakan sendiri, kehidupan setelah menikah itu memang benar, kurang lebih sama rasanya ketika kita naik bahtera berdua saja dengan suami kita. Hal-hal yang telah saya sebutkan diatas sebagai kiasannya. Menikah ibarat mengarungi lautan luas bersama kekasih halal kita menggunakan sebuah bahtera. Begitulah gambarannya menurut saya pribadi. Boleh sependapat boleh tidak ya, hehehe..

Lalu kemudian, sekitar bulan Maret 2016, saya positif hamil. Sebuah anugerah luar biasa besar dari Allah untuk keluarga kecil kami. Sejak sebelum menikah, saya memang punya cita-cita sendiri, saya membayangkan nanti saat saya menikah, saya ingin bisa mengurus rumah dengan baik. Saat saya punya anak nanti, saya ingin bisa mengurusnya sendiri (maksud saya, saya tidak ingin bekerja di luar rumah dulu sementara anak saya masih kecil). Alhamdulillah impian saya terkabul Ya Allah. Suami saya mendukung keputusan saya untuk berada di rumah saja mengurus keluarga. Tapi, di rumah saja bukan berarti lantas tidak bisa melakukan banyak hal, apalagi di era digital ini.

Alhamdulillah kehamilan saya yang pertama berjalan lancar, ya mual dan lesu yang tidak terlalu berlebihan, ngidam yang tak begitu aneh-aneh juga, kandungan saya pun sehat tak kurang suatu apapun hingga genap usia 36 bulan. Aktifitas berjalan seperti biasa. Cuma memang perkiraan lahir yang ternyata maju dua minggu dari HPL hitungan dokter. Ya, sempat tak menduga tapi alhamdulillah persalinan berjalan lancar.

Saya melahirkan putri pertama saya pada hari Selasa, tanggal 8 November 2016 di Semarang. Kemudian, peristiwa yang saya alami setelahnya adalah, pada hari Jum'at tanggal 25 November 2016, ibu saya tercinta dipanggil oleh Yang Kuasa. Ya, beliau memang sudah sakit sejak lama, berulang kali operasi, periksa kesana kemari sebagai bentuk ikhtiar kami mengupayakan kesembuhan beliau. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Kabar itu memang begitu mengagetkan tak hanya bagi saya sekeluarga tapi juga bagi banyak orang karena Jum'at paginya ibu masih kelihatan sehat, beliau bahkan ikut Upacara Bendera memperingati hari guru di sekolahnya, siangnya masuk rumah sakit dan sorenya sudah tidak ada. Begitulah memang hidup di dunia ini ya.

Saya pun akhirnya pulang ke rumah, ke kampung halaman di Pemalang dengan bayi merah saya, tinggal di sana menemani bapak. Sementara LDM dengan suami yang memang harus balik ke Semarang. Saya tinggal di rumah hanya berdua saja bersama bapak, dan adik saya satu-satunya yang kadang masih bolak-balik rumah Pemalang - Semarang, tempatnya kuliah. Kebetulan ia sedang skripsi, jadi tinggal masa bimbingan saja.

Lingkungan tinggal saya di rumah itu bisa diibaratkan seperti kawasan elit, maksudnya sepii sekali interaksi dengan para tetangga. Kebanyakan para tetangga pekerja kantoran, jadi memang sepi, ditambah tidak ada anak-anak di deretan rumah yang saya tempati. Lebih ramai di gang belakang. Jadi, memang rasanya kaya orang terisolasi. Maka, andalan saya satu-satunya untuk belajar sebagai ibu baru, yang benar-benar mengurusi bayi seorang diri tanpa bantuan siapapun adalah lewat hape saya. Ah, saat itu, kecanggihan teknologi benar-benar membantu saya.

Lewat hape yang terkoneksi internet, saya terhubung lagi dengan teman-teman alumni SMA saya dulu, yang kemudian membuka saya jalan untuk mengenal berbagai hal yang lebih luas, salah satunya berkenalan dengan komunitas Ibu Profesional. Lewat hape juga saya belajar bagaimana mengurus bayi baru lahir dengan baik, lewat sharingan para ibu-ibu jaman now yang menuliskan beragam pengalaman mereka di dunia maya. Btw, ada untungnya juga saya tinggal di lingkungan yang sepi, jadi apa yang saya lakukan, praktekkan kepada anak, tidak banyak omongan, tidak banyak yang mencela. Saya benar-benar murni belajar dari pengalaman sendiri bagaimana mengurus seorang bayi merah. Bapak saya, sudah kembali bekerja, tapi kalau di rumah kadang masih banyak merenung. Ya, alhamdulillah dengan adanya saya dan cucu pertamanya di rumah bisa menjadi sedikit hiburan baginya.

Kemudian, tak lama setelah ibu meninggal, Bapak masuk rumah sakit, diagnosa dokter katanya usus buntu dan harus segera di operasi. Lalu, belum pulih benar Bapak pasca operasinya, dapat kabar kalau adik saya di Semarang mengalami cidera kaki saat main badminton. Saat periksa ke dokter, disarankan oleh dokter harus operasi kaki. Masya Allah.. Adik saya pun akhirnya mengurus sendiri perihal operasi kakinya di Solo. Saya sekaluarga benar-benar merasakan ujian kehidupan yang nyata, namun kami semua tetap percaya, bahwa Allah tak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya. Hal itu memang benar, alhamdulillah kami bisa melewati ujian-ujian itu dengan baik. Yakinlah, sesudah kesulitan, ada kemudahan yang datang kemudian.

Selang beberapa lama setelah semuanya kembali normal, Bapak berbicara pelan-pelan kepada saya bahwa beliau ingin menikah lagi. Saya sempat kaget karena, tak menyangka akan secepat itu. Tapi, dengan hati lapang saya bisa menguasai diri. Saya sadar sepenuhnya, sebenarnya alasan Bapak menikah lagi itu bukan semata-mata karena diri Bapak, melainkan karena cinta Bapak kepada kami anak-anaknya. Bapak sadar bahwa ia memang bukan tipe orang yang bisa mengurus dirinya dengan baik. Ia butuh seorang wanita yang bisa membantunya mengurus dirinya dan ia tak mau merepotkan anak-anaknya. Aku tahu, diam-diam Bapak selalu tak tega kalau melihat perpisahan saya dan suami juga melihat suami saya yang bolak-balik dari Semarang Pemalang tiap weekendnya.

Saya legowo dengan keputusan Bapak. Alhamdulillah atas rekomendasi teman-teman baik Bapak yang jadi mak comblang, hehe.. Bapak menikahi seorang wanita yang sungguh sangat baik dan memang benar-benar telaten mengurus Bapak. Bonusnya, saya mendapat seorang adik lagi satu. Adik laki-laki lagi. Bapak menikah pada bulan September 2017. Tak lama setelahnya, saya pun balik lagi ke Semarang mengikuti suami saya.

Kemudian.. lalu.. hehehe, insyaAllah perjalanan saya setelahnya, saya tulis di postingan berikutnya ya, di bab demi bab peristiwa dalam perjalanan saya di Universitas Kehidupan ini. Terutama, peristiwa yang memang cukup berkesan dan istimewa dalam hidup saya. Selain itu, saya maksudkan tulisan ini juga sekaligus sebagai warisan bagi anak cucu dan generasi keturunan saya nantinya, sebagai pembelajaran bagi mereka semua. Tulisan dalam Blog ini sendiri juga sebagai pengingat bagi saya pribadi bahwa sudah banyak peristiwa atau kejadian yang telah saya lalui dalam hidup saya ini, pengingat bagi saya untuk terus bersyukur dan berkarya.

So, silahkan berkunjung ke bab berikutnya dan semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat dan menambah wawasan bagi sesiapa saja yang mampir di blog saya yang sederhana ini. Sederhana, tapi penuh makna, insyaAllah. Do'akan saja saya bisa istiqomah menulis ya :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 05 : Belanja Online

Bab 06 : Belajar Jualan Online

Bab 25 : Kursus Gambar Online sama Kang Maman Mantox