Bab 11 : Mengenal Konmari (Seni Beberes Rumah ala Jepang)

Dalam hidup berumah tangga, selalu ada tantangannya. Begitupula yang saya rasakan, baik tantangan dari luar, maupun dari dalam diri sendiri. Nah, tantangan yang berasal dari dalam diri sendiri biasanya dipengaruhi oleh pikiran, dan pengalaman masa lalu serta pola asuh keluarga saat kita kecil.

Dampak dari pengalaman masa lalu, pola asuh keluarga semasa kecil dan pikiran-pikiran kita dari hasil pembelajaran kita semasa sekolah dan dalam perjalanan kehidupan kita itu, buat saya pribadi terasa sekali mempengaruhi kehidupan saya, terutama setelah saya menikah dan punya anak sendiri, ditambah hidup mandiri bersama keluarga baru saya (hanya anak dan suami) serta jauh dari orang tua.

Tetapi apapun itu tantangan yang ada, harapannya bisa menjadikan saya menjadi lebih baik daripada pribadi sebelumnya. Bukankah dengan adanya tantangan demi tantangan yang kita lalui, bisa menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita yang harapannya bisa mendewasakan kita dan mematangkan diri kita menghadapi era jaman now dan jaman mendatang yang katanya semakin keras.

Nah, suatu waktu, di tengah-tengah kekalutan saya akan suatu tantangan, saya menemukan buku ini. Buku yang berjudul Konmari, Seni Beberes Rumah ala Jepang. Saat itu saya sedang belanja online, bermaksud membelikan buku untuk anak saya, nah saat saya sedang melihat-lihat katalog buku saya melihat buku ini. Entah kenapa, baru melihat judulnya dan cover bukunya saya langsung tertarik, dan seakan-akan ada sebuah tangan yang menuntun saya untuk memasukkan buku ini ke dalam keranjang belanjaa. Dan tanpa pikir panjang lagi, saya klik beli. Padahal ya, biasanya saya berusaha dulu mencari resume atau synopsis atau testimony dari barang-barang yang hendak saya beli, terutama jika Shopping online.

Saat pesanan saya tiba, saya sudah tidak sabar untuk membaca buku itu. Dan benar saja, saat mulai membaca lembar demi lembar, rasanya terhipnotis. Saya lihat bukunya, tipis saja sih, sekitar 100 halaman saya. Duh, sedikit rasa kecewa, kalau 100 halaman bagi saya kurang tebal. Jadi akhirnya, saya eman-eman bacanya, saya resapi, saya hayati benar-benar pesannya dan benar-benar membuka insight baru bagi saya isi bukunya.

Bahwa kegiatan beres-beres atau berbenah rumah yang kita lakukan selama ini ternyata tidak hanya sekedar merapikan barang, tapi lebih dari itu. Kegiatan itu bisa membawa dampak yang besar berkaitan dengan gaya hidup kita, pemikiran kita dan hal-hal lainnya jika dilakukan dengan teknik yang benar.

Marie Kondo, penulis buku ini yang kemudian teknik beberes alanya menjadi sebuah nama Konmari, telah melakuakn riset tentang kegiatan bebenah sepanang hidupnya sejak dia kecil dan akhirnya menemukan sebuah hal bahwa tenyata kegiatan berbenah itu bukan sesuatu hal yang sepele. Marie Kondo menuliskan pengalaman di bukunya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, kata-katanya sederhana namun sangat bermakna dan mengena sekali.

Saya pun sepakat dengan apa yang ditulisnya di buku. Tertakjub-takjub dengan isi bukunya. Dan setelah dua kali saya membaca bukunya, meresapi, dan merenungi dalam-dalam, saya sendiri sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya apa yang Marie Kondo tuliskan ini adalah merupakan intisari agama Islam, agama yang saya anut yang bersumber dari Al Qur’an dan juga ajaran serta teladan dari Rasulullah SAW. Hanya saja kemasannya beda, karena yang menemukan orang Jepang maka ya menajdi begitu istilahnya, Konmari, seni beberes ala Jepang. Padahal ya intinya itu semua adalah ajaran Rasul, apa yang telah Rasulullah lakukan duluu sekali semasa hidup beliau.

Intinya, mengajarkan hidup yang tidak berlebihan. Hidup Zuhud, walau kita mampu membeli dan memiliki apa saja, namun hanya menyimpan barang secukupnya saja, barang yang memang benar-benar kita butuhkan. Dalam Konmari menggunakan istilah Spark Joy.

Berbenah dalam Konmari ini mengajarkan metode berbenah secara tuntas, yaitu dengan memmbenahi barang perkategori, bukan per ruang atau tempat penyimpanan. Mengumpulkan satu jenis atau kategori barang menajdi satu dalam satu ruangan kemudian baru memilahnya. Memilah mana barang yang akan kita simpan dan kita buang. Dengan mengumpulkan satu jenis barang dalam satu ruangan maka kita pun jadi tahu seberapa banyak ternyata kita memilikinya. Baju misalkan. Karena selama ini ditempatkan dalam tempat terpisah, maka kita tak pernah tahu seberapa banyak yang kita punya. Bahkan ternyata kita punya double. Ya, step ini kalau diperas lagi intisarinya sama dengan konsep Yaumil Hisab, hanya saja yang disortir adalah barang-barang, bukan amal perbuatan kita. MasyaAllah..

Dan memang tantangan dalam Konmari ini adalah membutuhkan waktu yang lama, kisaran 6 bulan sampai 12 bulan jika jumlah barangnya banyak. Namun menurut Marie Kondo, waktu selama itu termasuk sedikit, jika kita memang benar-benar menginginkan hasil yang maksimal atau tuntas.

Jujur, saya sendiri pun belum tuntas melakukannya.

Masih terkendala kata eman-eman dan kapan-kapan.

Aduh, sayang nih kalau dibuang (dikasih orang lain), eman-eman dapatnya susah, harganya mahal.

Kayaknya kapan-kapan masih mau saya pakai lagi, masih mau saya baca-baca bukunya.

Aduuh…

Dan bagi saya awalnya hal terberat adalah saat sampai di kategori Buku-buku tapi lama kelamaan Alhamdulillah sudah bisa legowo.

Nyatanya setelah buku-buku dan barang-barang yang lain saya buang (donasikan/kasihkan) sama orang lain, ya nggak giman-giman tuh. Nggak nyarin juga, nggak menyesal. Toh, kata Marie Kondo, kalaupun kita benar-benar butuh lagi barang-barang yang sudah terjanjur kita buang/donasi/singkirkan, kalau memang benar-benar butuh, kita bisa berusaha mencarinya lagi. Kalau nggak dapat ya berarti belum jodoh. Nah disitulah bagian-bagian dari pelajaran berharga yang kita dapatkan selama kita mempraktekkan konsep beberes Konmari ini.

Mengasyikkan, melelahkan sekaligus juga menyenangkan. Karena beberes rumah ala Konamri ini bisa sekaligus menjadi sebuah sarana terapi bagi kita dari stress dan penatnya kehidupan. Waw, amazing sekali ya. Dan satu hal lagi, bisa menjadi sarana bagi kita dalam mensyukuri kehidupan ini. Bahwa kita masih bisa memiliki banyak sekali barang-barang, membeli ini, itu yang terkadang nggak kita pakai sama sekali padahal di luar sana?

Begitulah.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 05 : Belanja Online

Bab 06 : Belajar Jualan Online

Bab 25 : Kursus Gambar Online sama Kang Maman Mantox