Bab 12 : Eksekusi Konmari Part 1 (Semarang)
Setelah membaca Buku Konmari dan tertakjub-takjub sama isinya, saya pun memantapkan diri untuk mulai mengeksekusi barang-barang di rumah saya di Semarang. Kebetulan saat itu menjelang bulan Ramadhan 1439 H.
Sesuai petunjuk Konamri, saya memulainya dari kategori baju-baju. Saya kumpulkan baju-baju yang saya punya dalam satu ruangan. Banyak juga ternyata ya. Mengeksekusi baju-baju saya tak begitu kesulitan karena memang saya bukan orang yang gemar fashion. Baju itu asal nyaman dipakai, cocok buat saya dan sesuai style saya oke-oke sajalah. Sayapun juga bukan orang yang mengikuti trend fashion terbaru. Asal masih ada baju yang bisa dan pantas dipakai, cocok, layak, buat apa lagi beli-beli atau bikin baju baru? Ya tak terlalu sering beli baju paling kalau lebaran aja sih. Baju-baju, karena saya sekarang lebih sering di rumah, maka saya kurangin baju dines saya. Walau begitu, cukup memakan waktu juga sih. Dan hasil akhirnya ada sekitar lima atau enam karung baju ukuran besar (trash bag) berisi baju yang siap dieksekusi. Kebetulan sedang momen Ramadhan, jadi sekalian saya donasikan ke lembaga amil zakat (PKPU Semarang).
Kemudian, step kedua setelah beberes baju adalah beberes buku. Lha ini yang agak susah menurut saya. Dan memang benar. Beberes buku cukup memakan waktu agak lama. Dan hasilnya, masih ditumpuk aja sampai sekarang buku yang sudah dibereskan, terutama punya suami karena buku-buku saya kebanyakan berada di Pemalang. Sampai sekarang pun masih menumpuk aja di gudang. Harusnya nggak boleh tuh, barang yang sudah dieksekusi hendaknya di kick out dari rumah kita, entah mau dirongsokkan, dibuang maupun didonasikan.
Lalu kemudian adalah beberes file dokumen berupa kertas-kertas. Kertas apa saja. Nah ini selayaknay disingkirkan semuanya, kecuali surat-surat berharga ya macam surat tanah, surat keteranga ini itu. Dan itu pun sebaiknya disimpan dalam satu map berharga. Jujur saja, menurut Konmari, informasi berharga dalam bentuk kertas-kertas loose dokumen itu akan jarang kita tengok kembali kedepannya atau kapan-kapan, karena tak pernah menarik.
Setelah itu, menuju ke komono, atau pernak-pernik yang kita punya macam bros, souvenir pesta, foto-foto dan lain-lain. Ini cukup banyak menguras waktu juga dan kecermatan serta kejelian untuk memilah-milah mereka dalam satu kategori yang sejenis. Termasuk dalam komono adalah peralatan dapur, piring-piring, gelas, panci, wajan, dan lain-lain. Nah, jujur saja kalau buat alat-alat dapur, saya sendiri belum memulainya sampai sekarang. Wkwkwkw..
Langsung loncat ke Memorable things. Ya, mirip komono, Cuma benda-benda ini mengandung suatu kesan atau pesan sejarah tertentu. Biasanya foto, barang-barang milik anak, barang warisan dari seseorang, hadiah dari seseorang yang terkadang kita tak terlalu butuh atau tak sesuai, dan lain-lain.
Jujur saja, eksekusi Konmari Part 1 ini cukup membawa dampak untuk mengurasi koleksi baju-baju saya di rumah, tapi belum hal-hal lainnya jadi kesannya masih sama kaya beres-beres atau bebenah biasa, daan sampai sekarang saya masih menjadi pribadi yang berantakan. Oh nO! Help mee.. tasukete kudasaiii yooooo….
Komentar
Posting Komentar