Bab 13 : Eksekusi Konmari Part 2 (Pemalang)
Well, kenapa harus ada Eksekusi Konmari Part 2? Karena barang-barang saya juga masih banyak yang ada di Pemalang dan itu juga perlu dibenahi. Terutama buku-buku dan beberapa baju-baju. Jadi, pada kesempatan saat saya lumayan lama di Pemalang, saya pun mulai beberes. Beruntung saya mendapat teman yang cocok untuk menemani saya mengeksekusi buku-buku saya.
Dia adalah Egi, seorang pekerja social yang unik di komunitas social. Dia juga seorang kutu buku. Jadi kita cocok deh. Honestly, dia amat berjasa sekali membantu saya mengeksekusi koleksi buku-buku saya yang luamayan buaaaanyaak ini.
Pertemuan saya dengan Egi pun sungguh unik sekali. Dia adalah adik kelas saya sewaktu SMA, tapi kami belum pernah kenal sebelumnya, bahkan dia mungkin tak mengenal saya. Tapi, saya tahu kalau dia adik kelas saya di SMA. Terpaut satu tahun dengan saya. Dulu kalau tidak salah dia juga bersekolah di SD yang sama dengan saya, dan setelah saya konfirmasi saat kami sudah saling kenal, ternyata benar. Bapak saya adalah mantan gurunya. Hehehe..
Kami pernah bersama dalam satu grup alumni Smansa, juga di satu grup Ruang Menulis, ternyata. Tapi, tak pernah mengenal dekat. Entah mengapa, saat saya terfikir untuk memberesi dan mendonasikan buku-buku koleksi saya, teringat namanya karena saya tahu dia bekerja di komunitas social di Pemalang. Tapi, ternyata, kontak nomernya belum saya simpan dan dia sudah keluar dari grup baik grup alumni maupun grup ruang menulis. Belum sempat saya bertanya pada teman saya satu alumni untuk meminta nomernya, eh, dia duluan yang WA saya. Saya tahu itu Egi dari profil fotonya. Dia dapat nomor saya dari akun instagram jualan saya untuk membeli boneka tangan sama saya. Karena memang saat itu saya sempat berjualan beberapa mainan anak termasuk boneka tangan dan boneka jari. Wow, what a… coincidence? No. I’m sure that’s God’s will to reconcile her and me. Hehehe…
Singkat cerita, setelah kami bertemu dan saya menjelaskan maksud saya, Egi dengan sigap membantu mengeksekusi koleksi buku-buku saya yang akan didonasikan. Hasinyaaa, ada sekitaran 10an kardus eh bahkan 15 kardus yang berhasil diangkut oleh Egi dan teman-teman baru saya dari komunitas social untuk anak-anak (Kelas Inspirasi Pemalang). Kami banyak ngobrol hal-hal yang wau.. berbobot dan ndaging selama eksekusi buku-buku saya ini.
Awalnya ya berat buat saya, tapi setelah otak saya sukses dicuci oleh konsep-konsep Konmari, ya it’s easy ajalah. Bahkan ketika selesai berbenah, saya paling tidak mengharapkan lemari kaca saya tempat menyimpan sebagian koleksi buku berkurang separuhnya. Lha kok ini masih penuh aja sih? Bathin saya berontak. Hmm..
Memang, sepertinya harus ada berbenah part selanjutnya. Padahal kan, ya teorinya harus sudah tuntas sekaligus di awal. Hmm….
Well, but it’s better than do nothing dan setelah beberes, ya perasaan biasa aja juga, nggak gimana-gimana (merasa sayang sama koleksi buku-bukunya). Malah I feel a little bit better. Ya sudah dibawa pergi jauh koleksi buku-bukuku dan semoga bermanfaat di tempat yang baru. Kapan-kapan kalau memang niat banget bikin perpus sendiri insyaAllah akan ada rejeki sendiri untuk buku-buku baru pengisi rak buku yang masih kosong di dalam perpus. Aamiin… yaa rabbal ‘alamiyna…
Komentar
Posting Komentar