Bab 15 : Tentang Wisuda

Well, wisuda disini artinya lulus dari Perguruan Tinggi ya, karena model sekarang itu, sudah dari TK pun pakai istilah wisuda, pake selempang dan pakai toga. Entah siapa yang memulai trend ini, saya juga tidak tahu. Mungkin ini juga buat affirmasi posotif agar anak kelak selalu termotivasi untuk sekolah dan segera lulus dan diwisuda, mulai dr jenjang TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi.

Baik, saya bahas bagian ini karena cukup panjang kehidupan saya berkutat disini.

Wisuda demi wisuda yang saya lalui, saya hadiri. Wisuda Om Bim (adik kandung saya), Wisuda Om Arul (adik tiri saya) dan Wisuda Suami (Ayahnya Haya).

Setiap orang bebas berpendapat dan mengutarakan pendapatnya, asal dengan sopan, santun dan beradab. Berbicara tentang wisuda, sudah pastilah terkait dengan dunia perkuliahan, alias belajar di perguruan tinggi.

Jujur saja, bagi saya pribadi, pendidikan formal maksud saya belajar di sekola ini, itu sebenarnya kalau mau jujur, dari dulu tak pernah menarik minat saya. Sejak saya kecil, sejak SD mungkin ya, saya tak pernah begitu menyukai dunia sekolah, ya pemikiran yang berbeda dengan orang kebanyakan, yang biasanya dianggap aneh, nyeleneh bahkan bahaya. Begitulah resikonya ya. APalagi di Indonesia ini yang masih menganggap ijazah adalah segalanya. Well..

Saya lebih suka belajar bebas, tidak terlalu terikat aturan tapi tetap punya perencanaan-perencanaan yang baik. Belajar itu menurut saya bisa dimana saja, asal esensinya dapat. Asal kita heppy, senang, dan pastinya ilmu yang kita pelajari benar-benar bermanfaat untuk hidup kita, lebih-lebih bisa digunakan untuk sebesar-besar kemanfaatan orang lain. Itu prinsip saya, yang g begitu pusing dengan ijazah ini, itu. Well, karena saya suka bebas, saya lebih suka berwirausaha, dan bagi saya menjadi PNS? Bukan impian hidup saya sama sekali.

Okelah, bagi orang yang planning hidupnya di kantor ataupun di lembaga resmi baik instansi pemerintahan maupun swasta, tentu ijazah sangat diperlukan. Wajib malahan. Tapi bagi pengusaha, ya tidak ada yang mewajibkan. Tapi boleh-boleh saja kan seorang yang bercita-cita jadi pengusaha berijazah tinggi? Ya boleh-boleh saja sih. Tapi lagi-lagi, menurut prinsip saya sendiri bahwa selembar ijazah bukanlah sebuah pembuktian yang sebenarnya. Hal ini yang kemudian menjadikan saya untuk mau belajar pada siapa saja, tanpa memandang ijazah, memusingkan latar belakang pendidikan ataupun yang lainnya.

Pendidikan itu penting. Iya, saya setuju tapi kemauan untuk belajar kapan saja, dimana saja dengan siapa saja itu jauh lebih penting. Boleh nggak setuju sama pendapat saya kan? Iya, boleh-boleh saja silahkan…

Jaman now itu sudah lebih berkembang, banyak sarana buat belajar bahkan yang nggak perlu keluar rumah. Lewat media daring, homeschooling, workshop dan seminar-seminar dengan tema-tema dan pakar pembicara yang menarik dan sudah berpengalaman di bidangnya. Asyik sekali pastinya.

Sedikit konflik dalam hidup saya antara keinginan saya vs kemauan orangtua dalam bidang pendidikan, karena tiadanya komunikasi yang baik. Maka, harapan saya semoga kedepan saya bisa membina dan membangun komunikasi yang baik dengan keluarga kecil saya. Aamiin…

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 05 : Belanja Online

Bab 06 : Belajar Jualan Online

Bab 25 : Kursus Gambar Online sama Kang Maman Mantox