Bab 17 : Training Jiwa di Hotel Semesta Semarang
Nah, acaranya kebetulan siang ternyata sampai sore, jadi Alhamdulillah paginya masih bisa ikut seminar parenting sama teman-teman komunitas YukJoss Abah Ihsan di SD Bintang Juara. Habis itu cuzz pergi ke tempat seminar di Hotel Semesta. Oh ya hari ini udah diijinin suami buat pergi seharian dari pagi sampe sore ya, suami yang jagain anak di rumah. Insya Allah bisa jalan-jalan dengan tenang seharian karena Alhamdulillah bersyukur sekali punya suami yang very high qualified dalam urusan jaga rumah dan jaga anak.
Nah, pas mau ke Hotel Semesta nih, ada cerita. Duh jalannya lupa-lupa inget. Dulu sih udah pernah kesana udah kebayang hotelnya kaya apa, cuman ya itu jama duluuu, jaman masih belum satu arah. Sekarang lumayan pusing deh karena jalannya harus memutar dulu. Nah, jalan memutarnya ini yang saya gak tahu. Udah liat peta google gak mudeng juga, tanya orang sana sini di sekitaran Pasar Johar kok ga nemu juga. Bingung bin gemes deh soalnya kalau mau diukur, saya tahu persis jarak saya dan Hotel Semesta pada saat ini deket banget. 10 menit sampe bro, cuman karena nggak tau jalan jadi tersesat kan. Nggak terhitung deh saat itu saya tanya beberapa kali ke orang-orang. Dikasih petunjuk SuperIndo, Toko Kain Jangkrik yang notabene saya juga tidak tahu dan tidak tempe ya. Dengan peluh bercucuran karena sudah hamper jam 1, ya takut telat takut ketinggalan aja maksudnya ooeningnya gitu, eman-eman kalo sampe kelewat, akhirnya sampe juga disana.
Pas masuk, wah udah banyak juga yang datang ya karena udah hamper dimulai acaranya. Saya milih duduk di sisi kanan, awalnya di bagian belakang trus melongok-longok masih ada kursi kosong di bagian depan paling pinggir deket tembok, nah majulah saya kesitu. Tapi tempatnya nggak enakeun, jarak dengan tembok sebelahnya terlalu sempit padahal saya tahu nantinya bakal dilewatin banyak orang dan tentu saja bisa mengganggu. Akhirnya cari lagi dan liat ada yang kosong di depan lagi, kalo g salah inget ya di baris ketiga paling pinggir kanan pol delet tembok. Okelah, sepertinya sudah fix disini.
Saat saya stalking instagram Pak Dedy, saya tahu ya pada saat sesi training nanti akan ada sesi berpasangan. Dan tentunya berpasangan sesame perempuan juga dan kalau bisa yang belum pernah dikenal sebelumnya. Saat itu saya berfikir, yang paling dekat ya sebelah kiri saya ini. Seorang mbak yang lumayan tinggi semampai dan sepertinya masih single. Saya amati ia datang dengan teman di sebelahnya lagi yang sepertinya sudah menikah. Pikir saya, jadi nggak mungkin kan pasangan sama teman sendiri.
Okelah, training pun dimulai. Dibuka dengan dramatis oleh Pak Dedy. Saya suka, trainingnya sederhana aja, tapi mantap, mengena dan bermakna. Tidak terlalu banyak ubarampe dan alat-alat apa, hanya Pak Dedy saja sebagai pembicara tunggal dan slide besar di belakangnya sebagai alat bantu penjelasan. Saya tentunya sudah siap dengan buku catatan tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Nah, sesi demi sesi pun dimulai. Saat tiba pada sesi berpasangan, ternyata saya tidak jadi berpasangan sama orang yang duduk d sebelah saya, karena dia ternyata lebih memilih berpasangan sama temannya sendiri. Ya udah, saya cari dan dapatlah orang yang duduk di belakang saya yang ternyata adalah seorang ibu paruh baya. Eh, jujur saya agak kaget ya karena pertama nggak menyangka kalau bakal menemukan ibu-ibu paruh baya di training detok jiwa ini, karena saya pikir kebanyakan yang ikut training ya masih usia sekitar 20-30an. Ternyata ada juga usia 40-50an lebih yang datang tapi memang sedikit.
Kedua yang bikin saya schock, bahwa beliau ini physically mirip sama almarhumah ibu saya yang telah meninggal beberapa bulan lalu. Ya Allah.
Jujur, saya memang masih ada ganjalan dengan ibu. Ada sesuatu hal yang tidak tuntas antara diri saya dengan ibu. Masalah perbedan pendapat akan suatu hal. Dan sampai ibu meninggal, hal itu belum terselesaikan. Mengganjal sekali bukan rasanya? Dan dampaknya kemana-mana. Apalagi bagi saya seorang ibu muda dengan anak yang masih batita. Efeknya akhirnya jadi ke suami dan anak dan juga diri saya sendiri tentu saja. Kalau kata Pak Dedi, kita ngejalanin hidup tu tiap hari ngga plong, gitu. Ada yang ngganjel. Tau rasanya kepengen pup tapi nggak tuntas? Nggak enak banget kan rasanya buat menjalani hari? Ya gitu deh. Tapi rasa ini ada di hati, dan juga di pikiran, jadi kebayang sendiri kaya apa jadinya.
Setelah semua peserta dapat pasangan, sesame jenis tentunya, bukan beda jenis walau yang hadir di training in ada pasangan suami dan istri, maka dimulailah sesi selanjutnya. Kita malukan sesi-sesi terapi dituntun langsung oleh Pak Dedi. Saat sudah mulai sesi berpasangan, mulailah terdengar suara-suara tangisan. Di depan, kiri kanan, belakang bahkan saya sendiri pun ikut menangis.
Biarkan.. biarkan saja, kalau memang ingin menangis menangis sajalah, nggak usah ditahan-tahan. Dan yang membuat saya sedikit merenung, bahwa, tangisan yang terdengar keras dan lama itu rata-rata dari kaum pria. Kaum yang memang seringkali di judge dengan doktrin, jadi laki-laki tu harus kuat, nggak boleh cengeng. Ihh, malu-maulin aja. Masa laki-laki nangis. Dan di sesi ini, tumpahlah itu semua.
Ada satu lagi yang bikin histeris. Ada satu peserta, kebetulan yang duduk paling depan dekat panggung pembicara, menangis sampai histeris sekali. Teriak-teriak, ya mirip sama kaya orang kesurupan. Di saat para peserta yang lain sudah tenang, dia malah semakin menajdi-jadi. Kata Pak Dedy, udah biarin aja. Berikan ruang aja. Pak Dedi membimbing mbak tersebut dengan kata-kata. Akhirnya lama-lama si mbak tersebut bisa ditenangkan. Lalu Pak Dedi sedikit membahas kejadian kecil tadi barusan dan fenomena kesurupan.
Kemudian, berlanjut ke sesi sesi selanjutnya. Masih berpasangan sebelum akhirnya duduk sendiri-sendiri. Ada sesi rehat karena acara ini di mulai pada siang hari, sesi rehat untuk sholat saja tanpa coffee break. Dari panitia Cuma ngasih air mineral 600 ml satu botol aja. Jadi bagi yang mau ikutan training lagi, siap-siap bawa camilan sendiri kalau kamu tipe yang gampang laper. Plus permen kalo ada, hehehe..
Sesi setelah break, lebih ke sesi cuci otak, kalau menurut saya. Tentang fakta-fakta masalah kita di bumi, siapa kita di bumi ini dibanding dengan kekuasaan Tuhan yang Maha Besar. Jika kamu merasa punya masalah besar, ingatlah. Tuhan Semesta Alam yang Maha-Maha Besar.
Tapi ya, kadang namanya orang yang lagi banyak masalah itu, pikirannya mampet. Maka untuk itu, kita butuh bimbingan dari orang lain, ya semacam guru, pelatih, ustadzah, atau teman yang kapasitasnya atau levelnya lebih tinggi dari pada kita. Jangan curhat pada teman yang bahkan levelnya lebih rendah daripada kita. Bahaya dan kasihan juga teman kita nanti.
Salah satu usaha dan ikhtiar yang saya lakukan ya itu, ikut training detox Jiwa ini. Intinya begitu. Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang trainingnya, daftar sendiri ya. Heheheh..
Kemudian, acara training di tutup dengan sesi makan malam. Nah, baru pada seminar kali ini, pertama kalinya panitia menawarkan makan prasmanan dari pihak hotel tempat acara beradda dan persediaan nasi box dari pihak panitia sendiri. Kata Pak Dedi, ini buat mereka yang udah nggak kuat banget nahan laper dan antri untuk mengambil makanan. Bisa ngambil nasi box tapi terbatas jumlahnya. Ya, siapa cepat dia dapat. Kesadaran sendiri lah ya, kaya Pak Dedi. Kalau memang nggak laper banget dan nggak butuh nasi box ya silahkan bersabar mengantri sendiri untuk prasmanan. Demikian kata Pak Dedi yang baik hati.
Oh ya, seperti biasa dilanjutkan dengan sesi wefie dan selfie dengan Pak Dedu yang ganteng. Hehehe. Saya pun ikut berfoto sama Pak Dedi, dengan buku karya Pak Dedi yang saya pinjem dari salah satu peserta, wkwkw.. maklum, belum ada budget buat beli bukunya dan belum terlalu butuh beli buku baru. Tapi lain kali pengen beli sih bukunya Pak Dedi yang satu itu.
Sebelum pulang, saya sempatkan sholat maghrib dan isya sekalian, agar tenang di perjalanan pulang. Kebetulan ini malam minggu yak. Heheheh..
Alhamdulillah sampai rumah dengan selamat, dan saat di rumah, saya baru tersadar bahwa ini sekarang tanggal 2 Maret 2019, sedangkan Ibu saya lahir tanggal 3 Maret 2019. Ya Allah, jadi merinding saya.
Malamnya, saya merenung. Saya merasa sedikit lebih lega. Plong, bener deh kaya testimony beberapa peserta yang sudah ikutan seminar Pak Dedi. Saya kaya habis buang sampah. Sampah di hati saya yang sudah menumpuk selama ini.
Saya merasa ada perubahan, sudah nggak gampang emosian lagi. Karena biasanya, seperti yang dikatakan sama Pak Dedi, kadang kita emosinya Cuma 2, marahnya ke orang Cuma 2, eh yang kita keluarin kok 10. Lha yang 8 dapat dari mana? Itu adalah tumpukan emosi atau rasa marah kita ke orang-orang di masa lalu yang belum tersalurkan.
Dan saya mengalami hal itu. Dan memang lebih sering terjadi pasca orang tesb menikah, alais berkeluarga sendiri. Korbannya? Biasanya kalau nggak suami ya anak atau dua-duanya. Kalau saya lebih kepada suami. Ya Allah, maafkan aku ya Zauji. Huhuhuhu.. Tapi qadarullah, masyaAllah, Allah anugerahkan kepada saya seorang lelaki yang sabar dan baik hatiinya untuk menjadi pendamping hidup saya dalam berumah tangga ini. masyaAllah tabarakallah Ya Allah. Alhamdulillah.
Tetapi, walau sudah pernah ikut training, ya emosi kita tetap harus dijaga, kata Pak Dedi. Kalau nggak ya bisa kambuh lagi. Itu juga yang saya rasakan, hehe.. wajar ya, namanya juga manusia. Masih terus berproses jadi pribadi yang lebih baik lagi. Doakan ya.. Aamiin.. Allahumma Amiin…
Katanya ingin jadi pribadi yang memberikan manfaat buat banyak orang, buat orang lain? Lah, sama diri sendiri aja belum selesai kok, gimana mau berbagi sama orang lain? Makanya yuk semangat. Ikhtiar perbaiki diri dengan beragam cara, salah satunya ya ikut training Detox Jiwa ini dan terus belajar, belajar, dan belajar perbaiki diri. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
Sekali lagi saya tulis, belajar itu bisa dimana saja, kapan saja, sama siapa saja, dalam bentuk apa saja. Apalagi di era yang semakin canggih ini.
Semarang, 14 Juli 2019
Komentar
Posting Komentar